Senin, 29 Juli 2013

Cerpen punya Kakak

Nasehat Ibu

"Tak bisakah kau tak mengeluh Irma? Makanlah yang ada, masih untung Tuhan memberi kita makan hari ini." Sudah setahun lebih tak kudengar nasehat serta ocehan dari Ibu, nasehat yang sering tak ku dengar dan malah ku abaikan. Namun berujung pada penyesalan.... Selamanya.

Setiap hari Ibu memulai aktivitasnya dengan mencuci pakaian milik tetangga dengan penghasilan yang kadang tak mencukupi untuk hidup Aku, Ari, dan Ibu selama sebulan. Sejak Ayah pergi memulai hidup baru bersama istri mudanya, Ibu sudah mulai melakukan pekerjaan yang ada. Bukan di pemerintahan, bukan juga di perkantoran, namun pekerjaan serabutan. Ingin kuat tanpa meminta bantuan orang lain, namun apalah daya dan upaya bila tak ada lagi bahan makanan dirumah, Ibu pun mulai menawarkan tenaganya untuk bisa bekerja demi mendapatkan sesuap nasi untuk kami anaknya.

Sudah enam bulan lebih Aku belum membayar SPP sekolah, Aku duduk di bangku SMA sedangkan Ari adik semata wayangku duduk dibangku SMP. Sejak Ayah dan Ibu memutuskan untuk berpisah, tak ada lagi sosok yang melindungi kami dalam gelapnya hidup ini, dalam terangnya kebohongan, dan dalam ramainya kicauan burung yang berbicara tak ada arti.

Tak bisa Aku menyalahkan Ibu karena perpisahannya dengan Ayah, bila pada kenyataannya Ayah yang memilih untuk berpisah, memulai hidup baru bersama istri mudanya. Namun pikiran akan kekesalanku selalu tertuju pada Ibu. Mengapa Ibu tidak menyetujui saja keinginan Ayah untuk berpoligami? Mengapa harus perpisahan yang diambil? Setidaknya walaupun Ayah berpoligami, ia pasti akan tetap memberi uang untuk kami. Pikiranku selalu menyalahkan Ibu, keegoisan Ibu untuk menolak pemintaan Ayah dan memilih untuk pergi membawa kami anaknya ke gudang reot yang bahkan tak sebesar kamarku dulu.

"Ibu! Kapan aku membayar SPP? Sudah enam bulan aku belum bayar, Guru sudah menanyakan janji Ibu dua bulan lalu saar Ibu menemui Kepala Sekolah agar aku dapat mengikuti ulangan." Kata-kata itu terucap dari mulutku begitu saja sepulang sekolah, rasa malu dan kesal yang kurasakan sejak disekolah tadi seraya kutumpahkan pada Ibu, sosok yang sejak pagi tadi kulihat sedang mencuci pakaian sampai Aku pulang sekolahpun masih tetap melakukan pekerjaannya diwaktu pagi. "Ibu belum ada uang, tetangga sebelah baru membayar separu dari upah Ibu. Walaupun itu cukup untuk membayar SPPmu satu bulan, namun kita tak ada persediaan makan lagi untuk minggu depan." Tak ada kata yang ku ucapkan selain ocehanku pada Ibu siang tadi.

Malamnya, Aku, Ibu dan Ari dikejutkan dengan ketukan pintu, pintu yang jarang diketuk pada saat malam hari. Ibu membukanya, ada dua orang pria datang kerumah kami dalam pembicaraan ia bertanya "Apakah benar Ibu merupakan istri pertama dari Bapak Boy?" lalu Ibu menjawab "Ya", dan pria tersebut kembali bertanya kepadaku dan Ari. "Apakah kalian putra dan putri kandung dari Bapak Boy?" kami berdua yang sedari tadi mengikuti jejak Ibu untuk duduk dilantai beralaskan tiarpun hanya bisa menjawab "Ya" tanpa tau apa maksud dan tujuan mereka datang kerumah kami.

Kami utusan dari keluarga Ibu Lista bermaksud ingin memberi kabar. Ibu Lista, nama yang nyaris tak dapat kulupakan. Hampir setiap malam menjelang tidur kupikirkan nama itu, nama seorang wanita yang berhasil mencuri sosok Ayah dari kehidupanku dulu, nama seorang perempuan yang bahkan sudah Aku benci sebelum Aku melihatnya. "Ada apa?" jawaban Ibu segera menyadarkanku dari lamunan. "Bapak Boy tadi sore sudah meninggal dunia akibat serangan jantung." Salah seorang pria berkacamata segera menjelaskan kabar tersebut kepada kami.

Bagaikan petir yang datang menggelegar dengan kencang didalam hati dan pikiranku. Searaya saat itu juga Aku dan Ari menangis histeris, memaksa dan terus memaksa kepada Ibu agar mengizinkan kami pergi kerumah Ayah. Namun tak ada segarispun raut muka sedih dari Ibu, tak ada ekspresi yang ditampakkan diwajahnya, pandangan matanyapun tertunduk kebawah nampak jelas dimatanya pikiran kosong sedang menhantui Ibu malam itu.

Menggelapkan dana nasabah dan akhirnya meninggal terkena serangan jantunf sebelum di tangkap polisi. Seluruh harta benda baik rumah, surat berharga, kendaraan, dan perhiasan tak mampu membayar hutang-hutang Ayah. Ibu Lista, sosok wanita yang tak pernah kutemui sebelumnya kini terlihat lemas, mata dan hidungnya memerah seperti wanita yang ditinggal kekasihnya karena tewas dalam medan perang. Namun, bukan... bukan ia menangis karena cintanya pergi, bukan... Ia menyalahkan Ibu, ia memaki Ibu, ia mengguncang-guncangkan tubuh Ibu seraya berteriak dan menjerit histeris kepada kami bertiga setibanya kami dirumah duka. Rumah yang sudah dijaga ketat oleh Dept Colecctor. Pria-pria yang menunggu proses penyitaan harta dan benda Ayah. Ibu Lista menangis, meraung, dan menjerit. Sedih... sedih karena ditinggal hutang oleh Ayah dan jatuh miskin, harta bendanya ikut tersita untuk melunaskan hutang-hutang Ayah. Ia tak bisa melunasi seluruh hutang Ayah sehingga ia pun harus mendekam dipenjara selama beberapa tahun.

Setelah pemakaman usai, kami bertiga memutuskan untuk pulang menujur rumah. Dalam perjalanan pulang, tak sepatah katapun keluar dari mulut Ibu. Pikiranku terus membayangkan akibat apa yang akan Aku, Ibu, dan Ari terima apabila kami masih hidup bersama Ayah. Setiap hari Aku terus memikirkan perbuatan yang telah Ayah lakukan, kebohongan dan penipuan yang telah ia dan istri mudanya lakukan, terbesitlah suatu rasa "beruntung" dalam hatiku. Beruntung Ibu dan Ayah berpisah, beruntung Aku, Ibu, dan Ari tidak tinggal lagi bersama Ayah. Akhirnya aku mengerti apa maksud Ibu untuk memutuskan berpisah dengan Ayah. Perasaan bersalahku pada Ibupun mulai merasuk dalam pikiranku, kata-kata kasar yang seringku lontarkan pada Ibu, kini selalu menghantui perasaanku.

Namun bulan demi bulan berlalu, tubuh Ibu semakin kurus, kantung matanyapun semakin menghitam, dan bahkan baju yang sering ia kenakan menjadi kebesaran ditubuhnya. Nafasnya sering sesak, dadanya sering terasa sakit namun ia tak mau makan dan meminum obat yang kubelikan dari hasil usahaku berjualan kue. Sejak kematian Ayah, Aku jadi lebih mengerti maksud dan tujuan Ibu. Mungkin bukan hanya poligami yang Ibu hindari dari Ayah, tapi karena mungkin Ibu sudah tahu apa pekerjaan Ayah sehingga menyetujui permintaan Ayah unuk berpisah dan membawa Aku dan Ari pergi dari rumah kami terdahulu.

Ari membangunkanku pukul 02.00 dini hari. Ia mengguncang-guncangkan badanku sambil menangis.

"Ibu kaaa.. Ibu.."

Akupun beranjak bangun dan segera bertanya kepadanya.

"Ada apa dengan Ibu? Dimana Ibu?"

Tak kusadari rasa panik, gelisah, dan rasa takut ini datang menghampiriku. Ari menemukan Ibu terjatuh di kamar mandi saat ia akan mengambil air wudhu, Ibu terpeleset dan jatuh. Badannya dingin dan lemas, Aku menghampiri dan menggotong Ibu semampuku, lalu Ari pergi keluar meminta bantuan. Aku menidurkan Ibu di kamar dan menyelimuti tubuhnya agar hangat, memberinya minum dan terus membacakan do'a sebisaku untuk Ibu.

"Yaa Tuhan.. Kasihanilah Ibuku, ampunilah Aku dan ridhailah Aku agar dapat memula hidup baru bersamanya."

Tanpa sadar air mata ini mengalir dengan derasnya, tak sanggup Aku bila harus kembali kehilangan orangtua, Aku takut dan tak tau harus berbuat apa. Ari belum kembali, sepertinya ia sedang menuju kerumah Pak RT karena tetangga sebelah rumah kami sedang tidak ada dirumah. Tiba-tiba Ibu menggenggam tanganku dan mengusap air mataku.

"Jangan menangis nak, Ibu sangat menyayangimu dan juga Ari, Ibu beruntung memiliki anak-anak seperti kalian."

"Ibu jangan dulu berbicara. Istirahatlah dulu bu, Ari sedang meminta bantuan."

"Irma, dengarkan Ibu nak.."

"Ibuuuuu.."

"Irma, Ibu berharap kau dan Ari dapat menjalani hidup ini dengan baik. Menjadi adik-kakak yang saling menyayangi dan melindungi. Taatilah perintah agama dan selalu mendirikan sholat, do'akan Ayah dan Ibu. Ibu berharap kau dan Ari bisa menjadi orang yang lebih bersyukur. Bersyukurlah kepada Allah yang telah menjaga dan melindungi kalian. Bayangkanlah nak apabila Allah tidak memberi satu menit saja udara untuk kita hirup, kita tidak akan bertahan hidup nak.."

"Iya bu.. Maafkan Irma yang selama ini tidak menjadi orang yang bersyukur, Irma selalu mengeluh. Maafkan Irma bu.."

"Berjanjilah nak, kau akan selalu bersyukur dan menjada Adikmu, rajinlah membaca Al-Qur'an. Ibu telah memaafkanm dirimu sejak jauh hari sebelum kau meminta maaf..."

Mata Ibupun perlahan menutup dan tangan yang sedari tadi menggenggamku seketika melemas dan terjatuh. Aku menangis dan menjerit, Aku peluk erat Ibu, Ari datang berlari kepadaku, memelukku dan Ibu dengan erat, disusul dengan datangnya Pak RT dan para tetangga. Ibu telah tiada, meniggalkanku dan Ari dengan sepenggal nasihat yang membuatku menjadi lebih bersyukur.

Setahin berlalu, sejak sepeninggalan Ibu kini Aku telah lulus menempuh UN, Aku lulus dengan nilai yang memuaskan. Aku mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi ke salah satu perguruan tinggi negeri yang ada di daerahku. Sedikit demi sedikit Aku dan Ari memulai usaha kue kecil-kecilan yang hasilnya dapat membiayai makan dan biaya sekolah Ari. Kami menjalani hidup dengan rasa syukur, serta tak lupa kami do'akan Ayah dan Ibu kami. Aku bersyukur, Tuhan memberikan kami orangtua yang sempurna dimata kami serta hidayah dan pelajaran kepada kami, khususnya Aku.. Irma Susanti.